Saturday, 30 October 2010

Alhamdulillah. Semuanya baru selesai. Baru pulang dari sekolah. Baru selesai makan tengahari berlaukkan ikan singgang. Baru memijak-mijak baju di dalam baldi. Baru selesai menjemurnya. Baru mandi. Baru selesai solat dan terus memanjatkan doa.

اللهم اني اشكو اليك ضعف قوتي وقلة حيلة وهواني على الناس
انت رب العالمين وانت رب المستضعفين وانت ربي
الى من تتركني ..الى من تكلني..
الى بعيد يتجهمني ام الى عدو ملكته امري
ان لم يكن بك علي غضب لا أبالي

Perjalanan hidup yang tak menentu benar-benar membuatkan aku terkesan dengan doa ini. Doa Nabi Muhammad SAW ketika pulang dari Thaif. Sangat menyentuh hati. Dalam satu majlis di Mesir, Ustaz Amru Khalid mengulas doa ini dengan cara dan bahasa yang cukup indah. Sehinggakan Abnaul Faro'inah yang terkenal dengan sekular dan keras hati bisa mengalirkan air mata.


Setiap hari berlalu dengan semakin banyak umur semakin banyak pengalaman semakin banyak membaca semakin banyak pengetahuan semakin banyak janji semakin banyak rahsia semakin banyak ujian.

Setiap hari juga semakin kurang amalan, semakin kurang keimanan, semakin kurang kecintaan pada Rasul, semakin kurang mendampingi orang soleh, semakin kurang menghargai kitab,semakin kurang menunaikan janji semakin kurang memahami tanggungjawab.
Hipotesisnya, semakin meningkat sesuatu kebaikkan semakin merendah pula nilainya.
Segala yang beredar di orbit yang songsang ini seolah satu semboyan yang menggerunkan dari Yang Maha Kaya buat si faqir yang berlagak pencinta,

"APAKAH KAMU TELAH MELUPAKAN ALLAH DALAM URUSANMU SEHINGGA ALLAH MELUPAKANMU DALAM URUSANNYA?!¨

-waza-

Thursday, 2 September 2010

wahesytini awi-awi




Pagi ini bangun lewat. Sudah cuba untuk bangkit lebih awal tapi tak ada alasan untuk itu. merdeka bukan satu alasan. Tambahan lagi, orang yang sentiasa menyediakan alasan atas sesuatu kekurangan bukanlah orang yang baik.Teman serumah aku yang baik sudah hilang pagi-pagi lagi. Kini aku bertemankan lantai yang licin tak berbaju, dinding-dinding batu yang berwajah muram, serta hiasan-hiasan rumah yang kian terhakis sifat menghias dan adanya .

Lama merenung sudut-sudut rumah yang kaku, aku tersenyum sendiri. Ia mengingatkan aku pada kepribadian manusia.sifat malu kita seperti dinding pada hakisan atau seperti hiasan pada adanya. ia sedang dimakan oleh kulat-kulat masa.
“lamanya tempoh bagi kita yang dipenjara jadi sekejap bagi kulat-kulat yang merdeka”. Waduh, sebelum sempat menggenyeh mata, aku sudah punya satu pujangga kemerdekaan!

Teman yang paling baik adalah yang tidur di penjuru kananku. Dia lebih kuat tidur dariku. Bila aku tidur,ia akan tidur bersama,bila aku jaga, dia maseh tidur. Hanya bila aku menyapanya, ia akan segera bangun. Bercerita padaku tanpa henti, melembutkan jiwaku dengan puisi-puisi yang mengasyikkan. Tangisan,ketawa,sedih jenaka semua mampu ia lakukan. Bila aku sedih aku dakap ia ke dada. ia tadah airmataku sampai bengkak urat kulitnya. kadang-kadang ia menangis bersama. kebaikannya kadang-kadang sampai membuat aku keliru untuk berlaku saksama. Temanku ini atau aku yang lebih utama.

Yang paling kucinta namanya Shofahaat min sobril Ulama’. Kulitnya yang sawo matang menambah keistimewaan. Aku mengenalinya sudah lama tapi terlalu sibuk untuk bertegur sapa. Ramai orang jatuh cinta padanya, aku belajar mencintainya dari mereka. dia banyak bercerita padaku kisah orang dahulu mengenal erti hidup dan mengejar cinta.

Cinta yang mereka kejar sangat tulus. Memang tak lari gunung dikejar,tapi takkan datang gunung mengadap. Mereka mengembara sebulat dunia untuknya.Soal-soal cinta dan kehidupan mereka sangat susah untuk diertikan. Hidup dimulai apabila nafas sudah berhenti. Hidup yang dibelakang ini itulah hidup yang sebenarnya. Alangkah ganjilnya kata-kata ini.Jadi hidup yang sekarang ini untuk apa? Hidup dengan mengumpulkan apa yang disukai dengan apa yang tidak disukai. Hidup untuk membentang pula apa yang disukai dengan apa yang tidak disukai. Terlalu banyak dihidangkan dengan kisah-kisah pengembaraan, membuat aku susah untuk berpijak di bumi yang nyata.

Setiap saat, teman-temanku yang jujur ini seolah berbisik,


“kata-kata bukan sekadar untuk didengar!bangkitlah..kejar impianmu. Perjalananamu maseh jauh, kakimu maseh gagah, mulutmu maseh petah, hatimu maseh banyak ruang-ruang yang lapang..”

Benar, hidup jadi kosong bila kita tak punya impian. Impian bagiku bukan untuk dipenuhi. Ia sekadar penguat. Bilamana kita lemah dek impian, tinggalkan ia.Kalau tak mampu, sekurangnya kita patut sedar. Terlalu banyak impian buat dada kita sesak untuk bernafas di ruang yang lapang.

-waza-
31-8-2010

Tuesday, 10 August 2010

kekaseh yang setia..

Di desa Hulu Langat, sebuah desa yang berada di barat Semenanjung, tinggallah seorang pencari yang kelak berangan menjadi pencinta. Itulah diri ini. Desa tempat aku tinggal adalah sebuah desa terpencil di kaki gunung yang hijau, tempat itu, seolah-olah dekat dengan awan dan selalu diselimuti kabut.

Di sebelah timur desa, ada lembah yang indah. Di sana, terdapat kebun durian, manggis, cempedak, duku, langsat dan juga sayur-sayuran. Bila hujan turun, maka mengalirlah sungai yang ada di bawahnya, sehingga terdengarlah gemercik air seiring dengan sunyinya aktiviti penghuni desa. Bila terjadi banjir, dan orang ramai mendengar gemuroh air turun dari gunung, mereka hanya berdiam diri di tempat tidur mereka.


hari ini berkat kemurnian desa, hujan turun mengiringi Ramadhan. Ramadhan dan hujan antara kekasehku yang istimewa. Mereka kekaseh yang baik lagi mengerti, buktinya mereka selalu datang tanpa perlu didatangi. api kerinduan ini sudah lama membara tak menyala. Pada kalian kumohon kehangatan lalu dengan senyum semekar mampu, tangan kudepangkan lebar-lebar tanda redha. Selebar senyuman bunga saat dikunjungi pagi. Ya, kerana pagi adalah cinta si bunga.

Bertemu denganmu Ramadhan dan hujan, mengingatkanku akan kekaseh lain yang belum tiba lagi detik pertemuannya. Juga pada kekaseh yang pertemuan dengannya kini jadi mimpi yang ngeri..

Aku cintakan Allah dan Rasulnya. Aku cintakan syurga. Aku cintakan bidadari di dalamnya. Aku cintakan buku, dan aku mencintai kalian. Aku cintakan semua yang bisa mencambah kebaikan! Kalian bukti cinta tuhan. Tak salah kan untuk aku mencintai hadiah dari zat yang paling layak untuk dicintai. Aku mahu mengubah kesilapan yang lalu. Aku pernah diberi banyak benda. Aku tak hargainya sehinggalah aku kehilangan. Ia hilang dalam ada. Di depan ia tunduk membisu, di belakang ia rancak menari gembira. Hilang yang begitu, sangat menyeksakan. Justeru, bila kalian datang, aku bahagia


Suasana pagi di desa ini begitu indah. Desa ini bersama rumah-rumahnya yang rapat dan tersusun seolah-olah berbaris menyambut mentari yang bersinar. Cahaya mentari itu terus menerobos ke penjuru desa itu laksana seorang Marilyn Madeline Midoh(seorang gadis Kadazan yang mempunyai rambut yang cantik) yang melepas ikatan rambutnya dan menguraikannya di atas bahu. Aduh, kenapa dia yang mendapat nama!

Desa Hulu langat sememangnya mirip apa yang pernah dilukiskan oleh Abu Thayyib Al-Mutanabbi dalam bait-bait syairnya:

“suatu malam, gadis itu melepas tiga ikatan rambutnya. Di kegelapan malam, aku lihat seolah gadis itu mempunyai empat ikatan rambut yang hitam dan indah. Kemudian, dia menghadap kearah bulan purnama dan tiba-tiba aku melihat seolah-olah ada dua purnama yang sedang bersinar.”



Desa ini begitu semerbak. Begitu indah baunya dihiasi dengan bunga-bungaan yang harum. Desa ini ibarat taman dari sutera hijau, terlebih di musim semi. Setiap pagi, apa yang terdengar hanyalah suara merpati, nyanyian burung, irama tuwwu, dan siulan bulbul(belatuk).

Malam paling indah di desa ini adalah ketika kita tidur dalam keadaan sihat, aman dan tenteram. Sambil mendengar rintik-rintik hujan, turunnya salju dan embun, serta suara-suara titisan hujan di atas bumbung rumah. Keesokkannya, setelah hujan reda kita akan terbangun dan melihat jalan-jalan menjadi anak sungai dan lembah pun berubah menjadi sungai yang besar.

-Waza-
Ekstrak drp: ‘Asyik karya aidh qarni

Tuesday, 3 August 2010

makanlah durian dan duku



Beberapa bulan berlalu. bulan tak banyak,cuma satu. ia takkan berubah menjadi dua.yang berubah adalah warnanya. yang berubah adalah manusia yang keliru akan sinar dan sirnanya.

beberapa bulan yang satu ini, aku maseh cuba membiasakan diri.cuma, kadang2 keliru tak tahu apa yang patut dikejar. cahayanya sungguh menawan. dunia di sini selalu memujinya. bukan sekadar memuji, mereka mengejarnya. harta ,pangkat dan nama. itu tafsiran cahaya mengikut kamus hidup mereka.

aku berdiri di tengah mereka. aku pernah cuba berdiri di depan, aku langsung dihina oleh ilmuku. katanya,

"dunia takkan membawamu ke mana-mana".

aku akur lalu mengundur. sambil menunduk malu, aku mengheret kaki ke belakang. kebaikkan mula bertepuk tangan.mulanya bahagia tapi berubah menjadi suram dan sepi. belakang yang sepatutnya memberi cahaya tiba-tiba gelita. gelap memenuhi ruang sampai aku tak nampak apa-apa. Ahh, aku sudah ketinggalan!

aku teliti kalam Allah. aku halusi pesan nabi. aku tanyai para ulamak.
kata Quran,

"carilah apa yang telah diberikan Allah pada kehidupan akhirat, dan jangan lupa bahagianmu dari dunia."

kata Nabi,

"khoirul umuuri ausaatuha"
sebaik perkara adalah yang pertengahan.

kata ulamak,
"cukuplah dengan kalam Allah dan nabi. sekarang masa untuk beramal."

"manusia sekarang adalah manusia yang banyak mempersoal tapi tak pernah menyediakan bekal"


Ya Allah, kalau aku di batas yang licin, lalu tergelincir. sedang yang dijinjing adalah durian, yang dijunjung adalah duku, teguhkan hati untuk memimpin tangan menjaga duku. walaupun durian sedap, tapi aku tak tahan dengan kepanasannya nanti. duku itu walau tak berbau, tapi jangan pandang ia sebelah mata.

aku lontarkan dunia, kerana aku tahu dunia itu curang. ia tinggalkan kekasih hatinya. dunia itu penipu. ia gambarkan penjara bagai sebuah syurga.

Ya Allah, berkatilah Rejab dan Sya'banku..Sampaikan aku pada Ramadhan. ketemukan aku dengannya dengan rasa penuh rindu! Ameen!

-waza-
3-8-2010
-kebun durian, cempedak dan duku.

p/s- durian itu dunia, duku itu akhirat. makanlah dunia akhirat.

Thursday, 1 April 2010

Lamahaat Min Thoriikil Qaul



ما لذة العيش الا صحبة الفقراء
Tiada kelazatan hidup melainkan yang mendampingi si fakir

هم السلاطين والسادات والأمراء
Merekalah sultan, ketua dan pemimpin

فاصحبهموا وتأدب في مجالسهم
Bersahabatlah dan beradab dalam majlis mereka

وخلي حظك مهما قدمدمواك وراء
Lupakan bahagiannmu: yang boleh jadi kamu dahulukannya

واستغني من وقتك واحضر دائما معهم
Perkayakan waktumu dan sentiasalah mendatangi mereka

واعلام بأن الرضى يختص من حضر
Ketahuilah, sesungguhnya keredhaan itu
Khusus untuk mereka yang berdampingan

-Imam Abi Madyan Al Ghauth-

p/s-fakir di sini adalah fakir khayaali. Iaitu orang sentiasa berhajat kepada sesuatu. Dan tiadalah yang paling berhajat kepada sesuatu melainkan penuntut ilmu. wallahua'lam.

Thursday, 11 March 2010

الأخير مني


Jam menunjukkan 7.03 pagi. Sambil menghirup udara pagi, dikecap bersama alunan lagu Hilwah ya Baladi di stesyen radio Mesir, tulisan ini membentuk cerita. Kali pertama sejak sekian lama, pagiku tampak berguna. Semalam lena terlalu awal. Aku terlupa akan Isyak yang belum tertunai.

Maha Agung tuhan yang tak pernah leka apatahlagi tidur! Aku terjaga hampir setiap jam. Padahal tidur bagiku adalah makanan. Terjaga sebelum puas samalah seperti berhenti sebelum kenyang. Benarlah sabda nabi yang menyebut setiap orang punya Qorin di kanan dan kiri mereka. merekalah yang mengejut kita tika tidur, juga menjaga ketika jaga.

Bukan mudah untuk aku bangkit di awal pagi ketika fajar kazib begini. Waktu ini berkat doanya. “Ya Allah, cepatlah hantarkan aku pulang!” Entah mengapa, doa itu yang mula-mula terlintas di ingatan.

Pagi tadi, seusai solat terpanggil rasanya untuk berjalan-jalan di Suq Sayyarat. Aku duduk bersila di benteng kecil di situ. Kicauan burung sungguh menyentuh hati. Aku larut bersama zikir burung. ingatkah lagi burung-burung itu padaku? Aku ini pencintamu. Aku merindumu jadi aku datang memerhatimu. Aku tak mendekatimu, bimbang kau kan tersinggung dengan keberadaanku.

Setahun yang lalu, setiap pagi aku berjoging di dataran ini. aku akan terbaring di atas rumput kasar di bawah pohon tak berbuah sana. Di batangnya, maseh ada nama murokkab yang penuh kenangan. sambil tangan memekap kepala, mata memandang langit, aku akan menyimpul awan. Bila panas mentari hinggap menampar pipi, aku akan beredar. Cyber café master tempat persinggahan kedua. Awan-awan indah tadi langsung kujahit menjadi kata-kata.

لقد هَتفتُ في جُنح الليل حَمامة
على فنن وَِهْنا واني لنائم
Aku dikejutkan di tengah malam, oleh seekor merpati
Di dahanan itu ia melagu sayu, sedang aku maseh kelenaan

كذبتُ وبيتِ الله لو كنت عاشقا
لما سَبقتني بالبكاء الحمائم

Demi tuhan kaabah aku berdusta, kalau benar aku merindu
Mana mungkin tangisan merpati, bisa mendahuluiku

وازْعُم اني هائم ذو صَبابةٍ
لِربي فلا ابكي وتبكي البهائم

Aku menyangka akulah pecinta, yang paling sedih menderita
kepada tuhan aku tak menangis, sedang binatang sentiasa dalam tangisan

Syair yang kubacakan tadi adalah syair Qais kepada cintanya Laila. Ada tertulis di dalam kitab Ayyuhal Walad karangan Imam Ghazali Rahimahullah.

kata orang, si gila sering melakukan benda-benda yang pelik. Tapi orang yang sering melakukan benda-benda yang pelik tak semestinya gila. Itulah umum dan khusus mutlak. Gilanya itu boleh jadi beretika dan berkeadaan. Persamaannya, semua orang memandang rendah pada sesuatu yang di luar kebiasaan.

Qais dikatakan gila karena cintanya. Karena cintanya, dia meninggalkan pakaian keindahan kepada compang-camping kerinduan. Tapi dia sedar, cintanya lebih rendah dari cinta seekor merpati pada tuhannya. Ustaz Fuad hafizohullah guru mayaku, ketika mensyarahkan kitab ini bercerita, selepas kematian Qais, seorang lelaki telah bermimpi ketemunya. Lalu ditanya,

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Qais?”
“Alhamdulillah, Allah Taala telah mengampunkanku!” lelaki tadi taajub lantas menyambung,
“Bagaimana begitu?bukankah dulu di dunia kau dihina. Kau bahkan mati kerna cinta pada seorang wanita!”
“Ya, tapi tuhan jadikan cintaku sebagai hujjah pada manusia lain. Kalau sesama makhluk aku mampu cinta begitu, maka dengan Allah sepatutnya kamu lebih cinta dan rindu.”
Maka benarlah ayat Quran yang berbunyi,

واالذين امنوا اشد حبا لله
..Dan orang-orang yang beriman lebih tinggi kecintaannya pada Allah

Allah! Allah. Murahnya rahmatmu, ya Robb!

############################################################################

Aku punya seorang teman yang pelik. Dia tak menggunakan handset. Jangan menfsirkan dia itu sebagai aku. Aku tiada handset dan tiada itu berbeda dengan tak menggunakan. Temanku ini seorang yang sentiasa sibuk menolong orang dan tanpa handset pun dia tetap sibuk memanjang. Cuma sekarang sibuknya telah menyusahkan orang berdekatan.

Suatu malam yang suram-kesuraman itu yang membangkitkan semangatnya untuk bercerita- aku memberanikan diri untuk bertanya,

“mengapa tak guna handset, Din(bukan nama sebenar)?
“ntahla..aku tak boleh dengar bunyi message sbenornye. Lebih-lebih lagi bunyi tik-tik message masuk!”
“bakpe pulok gitu? Pelik ngat?”
“Tu ringtone handset aku dulu la, ade kenangan sikit! pantang bunyi message masuk, hati dok tenang lalu. Sokmo duk nanti-nanti,”
“pastu..”
Pastu ape lagi? Mung bahagian korek cerita orang no 1!aku malas doh cakap pasal ni, buleh gila tau x?
“nak gila ape..memang mung gila dah kan. Nebeng sungguh la mung ni! Buat malu lelaki je,huh!.”
“Ahh..mung pun 2x5!”

Pernah satu ketika teman-teman dari muhafazah lain duduk menumpang di rumah kami. Malamnya kami tidur beramai-ramai. Tilam-tilam dihamparkan cantik dengan cik sara (selimut tebal) menanti manja.Ada seorang teman yang menggunakan ringtone message tik tik(handset murah). Sepanjang malam dia berbalas message. Dengan atuk di kampung bilangnya.

Aku perasan kawanku tadi yang taza’za’ hatinya ini tak dapat tidur. Bila aja message berbunyi, berpusing-pusing dia menutup telinga dengan bantal. Tanpa disedari, dia menghilang entah ke mana.setelah Subuh dia muncul dengan mata merah. Ingatkan tahajuud rupa-rupanya melayan facebook..Kalau ditanya dengan siapa, dia tanpa senyum memberi kiasan,

“tak ada sesiapa la, bang! sekadar menjadi pemerhati yang sembunyi.”

Aduh, kesiannyanye! cinta manusia ini bukan sahaja menyempitkan dunia. Bahkan ia menyempitkan pemikiran. Kita tak ingin untuk memandang sejengkal lebih jauh ke depan. Mujurlah, saat-saat terakhir menanti musafir tika hampir berpisah dengan mesir, jwapan datang bagai air menyelak tabir dan menyingkap segala sir.

###########################################################################

Aku jadi teringat sebuah buku yang kubaca di dalam bas semalam. Alhamdulillah, satu-satunya istiqomah yang berfaedah. Ada satu qasidah yang menyebut;

كن رجلا بألف رجل فان لم تستطع فكن رجلا ولا تكن نصف رجل

Jadilah lelaki seperti seribu lelaki, kalau tak mampu jadilah seorang lelaki, tapi jangan jadi separuh lelaki

Ustaz Amru Kholid menambah di dalam bukunya ‘Inni Jaa’ilun Fil Ardi Kholifah’. Ketikamana saidina umar alkhattab mengutuskan Amru ibnu ‘Asr untuk membuka mesir, Amru ibnu ‘Asr telah meminta meminta tentera bantuan seramai 1000 orang.

Akan tetapi saidina Umar hanya mengutus seorang lelaki sahaja yang dipanggil Al-Qo’qo’ (riwayat lain kata dua orang). ‘Amru ibn ‘Asr pelik memohon sekali lagi dan bertanya. Saiduna Umar marah dan berkata,

وألله لصوت القعقاع في المعركة وهو يقول: الله اكبر, خير من الف رجل ارسله اليك
Demi Allah, suara Qo’qo’ di medan perang yang berkata Allahuakbar itu terlebih baik dari seribu lelaki yang diutuskan kepadamu.

Maka ketika tentera Muslimin dikepung oleh tentera Babilion di mesir, Amru ibnu ‘Asr menyuruh al-Qo’qo’ bertindak. Tiada apa yang dilakukannya melainkan setelah solat Subuh dia bangkit dan berteriak,

يا عباد الله, انصر الله ينصركم
wahai hamba-hamba Allah, bantulah Allah, dia akan menolongmu.

Tatkala tentera Rom mendengar tempikan keras itu, mereka menyangka orang islam telah mendapat tentera bantuan yang ramai dan akan menyerang dari segenap ruang. Lantas mereka terus berundur dan kemenangan berpihak pada tentera islam.

Cuba bandingkan kita dengan nabi Ibrahim Alaihissalam ketikamana al-Quran berbicara tentangnya,

ان ابرهيم كان امة

Ulamk tafsir menafsirkannya dengan pahala nabi Ibrahim di sisi tuhannya seperti pahala satu ummat. Maka di hari akhirat amal kebaikan manusia diletakkan di satu neraca dan di neraca yang lain diletakkan pahala nabi Ibrahim Alaihissalam. Ini kerana, baginda telah berdiri teguh sebagai seorang lelaki dan nabi dalam dakwahnya kepada ayah(saudara), kaum,dilempar ke dalam api dan dibuang ke negara yang banyak.

Demikian jugalah dengan hadis nabi SAW saat memuji saidina Abu Bakr dengan mengatakan imannya lebih berat dari iman seluruh manusia.

pesan aku pada diri sendiri dan orang lain. kalau tak malu pada mereka, malulah dengan golongan Hawa. Karena di sana ada wanita yang semangatnya mengatasi 100 lelaki . jangan pula kita tak boleh jadi hanya sebagai seorang lelaki. Alhamdullilah, artikel terakhirku ini berjaya juga aku memuji wanita!

-Waza-
11-3-2010

p/s- akhirnya terpaksa berpisah dengan si putih(Eee pc).

Sunday, 7 March 2010

Kita satu bukan dua



Ceduklah seberapa banyak
Dari bayangan dunia
Kamu sekadar menggenggam sesal

Karena bayang itu timbul
Dari cermin kemanusiaan
Yang membias cahaya Ilahi

Kitalah cermin itu
kita perantara yang mekar dengan cahaya
Tanpa cahaya tiada bayang-bayang
Tanpa bayang-bayang
Hidup tiada ruang untuk ditafsirkan

p/s- nota dari kelas Syeikh Rahimuddin hafizohullah ‘alaihi

Friday, 5 March 2010

syair untuk Mesir


يا أيتها النيل العاشقة
جَفوتِ بزمان وما درَيتُ بدرا

Duhai Nil yang mengasyikkan
Kamu telah kering sejak berzaman
Tapi baru sahaja aku sedari

انا ابكي ببكاء جاهل
ولا اتمني بليت منها ولا ارجو بلعّل
Aku menangis dengan tangisan si jahil
Tak pernah aku mengharap
Dengan laita..(mustahil berlaku)
Tak juga dengan la’alla..(mungkin berlaku)

مُلِئتْ نهركِ بدموعي
لان الدموع للفناء معيبٌ

(iaitu)agar sungaimu penuh dengan airmataku
Kerana airmata untuk sesuatu yang hancur
Adalah memalukan

يأيتها النيل الشابعة
انتِ التي قلتِ لي اني عاطش
فوالله الذي نفس محمدٍ بيده
انا لا أعطش سوى الله
Duhai Nil yang kekenyangan
Kamu yang berkata padaku
Bahawa aku dalam dahaga
Demi Allah yang jiwa Muhammad di tanganNya
Aku tidak dahaga selain Allah

شكرا إلهي جزيلُ تحية
هَدَيْتَ لي نعمة الهداية وهدية
Syukur tuhanku setinggi penghargaan
Kau tunjukkanku nikmat hidayah
Dan berikanku hadiah

اما الهداية في التفرق منها
هي الهدية صافيا منزها
Adapun hidayah untuk berpisah
darinya (dahaga cinta dunia)
Adalah hadiah yang tulus lagi suci

-واذا حبيبي-

4-3-2010

Sunday, 28 February 2010

فوزا عظيما : kemenangan yang besar

Bismillahirrahmanirrahim
Ada sesuatu yang sangat ingin kukongsi dengan kalian. Cerita kisah seorang sahabat yang terlantar di bumi Mesir sejak sekian lama. Dek kerana terlalu lama di situ, dia sudah jatuh cinta dengan Mesir dan segala isinya. Cintanya datang tatkala dia dan Mesir hampir-hampir terpisah. Semuanya gara-gara Mesir yang memberikan kata-kata harapan yang indah saat pertemuan terakhir mereka. Bersaksikan Sungai Nil dan sampah-sampah yang menghiasi tebingnya, tiba-tiba harapan tadi berubah menjadi cinta!

Sahabat kita ini disaat masih dalam penasaran serta dalam keadaan yang sangat kasihan, langsung tanpa berfikir panjang menerima cinta itu. Atas dasar cinta mereka yang entah bagaimana penghujungnya, sudah tentu akan terhalang kalau tak punya sokongan,takkan kekal kalau tak punya kekuatan.

Kekuatan seorang yang mengaku hamba adalah doa. Doa menghubungkan kita terus pada Allah. Dengan berdoa, kita mampu jadi istimewa. Sebagai sahabat, aku sudikan diriku jadi sang penglipurlara.

Moga ada yang sudi menadah tangan memohon doa. Bia sahabatku terus thabat mencintai Mesir. Sebanyak debu yang mengiringi perjalanan, sebanyak itulah auliya’ dan ulama’nya yang benar dan membenarkan.

#########################


1 Mei 2009- detik indah bagi bidadari-bidadari di langit syurga. Sebanyakmana air mata yang membasahi dataran Suq Sayyarat petang itu, setebal itulah juga keyakinan Fauzan bahawa tuhan tersangat-sangat menyayanginya. Tuhan sayangkan dia, sebab itulah tuhan memberinya ujian. Ujian yang mungkin menjatuhkan nama disisi manusia tapi hakikatnya satu peluang untuk meninggikan martabat di mata tuhan. Baginya, cinta itu, kalau tak ada pada manusia, akan ada pada yang lebih baik dari manusia. Dengan janji-janji itu, Fauzan membina keyakinan.

Petang tadi, dengan iringan suara nyaring Doktor Muhammad dari Masjid Sarbini yang mengalunkan azan Maghrib, Fauzan telah memutuskan hubungannya dengan Azima, buah hatinya yang berada di Malaysia setelah lebih lima belas tahun berkenalan. Lima tahun terakhirnya, mereka mula berkongsi pengalaman. Berpisah kerana sayang yang ada sudah terlalu sedikit, sehingga sudah tak ada baki lagi yang mampu diberi dan dibahagi-bahagi.

“Sebelum sayang yang sedikit ini berubah menjadi kasihan,menjadi benci, Zima rasa baik kita berhenti setakat ini je,bang!” kata-kata itulah yang terkeluar dari bibir kecil Azima. Suaranya yang serak kerana sudah terlampau banyak menangis sejak beberaja jam lalu benar-benar mengejutkan Fauzan.

“Zima, mengucap Zima,mengucap!istighfar banyak-banyak dulu, jangan terburu-buru. Jangan sebab abang tegur macam tu pun dah mintak putus! Zima takkan tak biasa dengar abang berleter,”
Fauzan sudah tak keruan. Dia kenal siapa Azima dan bagaimana perangainya. Orangnya sangat sederhana, rendah diri, tak pernah melawan apabila ditegur tetapi sangat tegas. Anak sulung dari 6 orang adik-beradik ni seorang gadis yang sangat berdikari serta banyak berahsia.

“Abang boleh dapat yang lebih baik dari Zima! Sesuai dengan ciri-ciri yang abang nak, bertudung labuh, berjubah, lemah-lembut, tak berkawan dengan lelaki, pandai memasak. Terus terang Zima cakap, Zima tak ada itu semua. Zima tak layak untuk abang”

“kenapa ni?kenapa cakap macam ni? Kan kita dah janji dulu..zima dah lupa ke? Kan dulu abang pernah cakap..,”belum pun sempat Fauzan mengungkit kenangan-kenangan indah,mengulang kembali kata-katanya yang ditulis di dalam email, di dalam surat, di dalam telefon, cepat-cepat Zima memotong.

“Abang, tu dulu! Dulu lain sekarang lain. Masa dah berubah, abang pun dah banyak berubah sekarang!,”

“Sama je la! Kan abang selalu contact Zima kan. Cuma beberapa bulan ni je abang tak ada masa sikit. Lagipun Zima tahu kan,lepas telefon abang dicuri di masjid hari tu, abang tak beli lagi yang baru. Takkan sekejap saja Zima dah macam ni. Kenapa sebenarnya ni, cuba Zima terus terang dengan abang,”

suasana jadi agak tegang. Mahu sahaja dia mengungkapkan kata-kata yang kasar tapi dipujuknya hati agar bertenang. Fauzan terperasan yang beberapa orang arab dan mat hitam yang duduk menyamping di Cyber Cafe Master sudah menjeling-jeling.

Kedudukan Cyber café Master yang terletak di seberang jalan setentang dengan Kompleks Rumah Terengganu Hayyu Asyier itu memang menjadi sebab mengapa dia sering menjadi pengunjung setia di situ.

Kebiasaannya, jarang sekali warga melayu di bumi Mesir menggunakan Cyber Cafe di luar kerana boleh dikatakan hampir setiap rumah negeri di kawasan Hayyu Asyier ini dilengkapi dengan kemudahan internet. Kemudahan dan keistimewaan yang terlalu banyak di perkampungan Malaysia di kawasan Hayyu Asyier ini kadang-kadang membantutkan pergaulan pelajar dengan masyarakat arab di luar.

“Ahh, lantaklah! Bukan selalu pun aku bercakap kuat begini! Mereka tu kalau telefon lagi teruk, kalau bercakap macam nak pecah bangunan dibuatnya,” detik Fauzan di dalam hati.
“Maafkan Zima, abang!maafkan Zima! Dah lama dah Zima rasa macam ni sebenarnya. Sejak awal-awal kita berkenalan lagi. Tapi dulu abang tak macam ni. Abang boleh terima Zima seadanya. Tapi sekarang, abang dah banyak berubah. Di depan abang, Zima rasa macam hina sangat, macam Zima ni teruk sangat di mata abang,”

“Zima dah cakap, Zima bukan sekolah agama, kawan-kawan Zima semua macam ni jugak. Lainlah kalau Zima belajar sama macam abang. Abang tak boleh bandingkan Zima dengan kawan-kawan abang dekat sana. Zima tak boleh ikut macam yang abang nak. Zima ada hidup Zima sendiri. Keadaan kita lain, bang!lain sangat-sangat!” sambung Zima lagi dengan tangisannya semakin menjadi. Fauzan sendiri dah tak dapat menahan air mata dari mengalir.
#############################


Waktu di Malaysia ketika itu sudah menjangkau lebih dua belas tengah malam. Beza antara Malaysia dan Mesir di musim panas selama 5jam. kedengaran sayup-sayup bunyi radio berselang-seli dengan tangisan Azima . Zima tak hirau lagi samada tangisannya disedari keluargan atau tidak. Biasanya kalau bercakap dengan Fauzan di waktu malam, dia akan bercakap dengan suara perlahan, kadang-kadang dia akan membuka tv atau radio supaya percakapannya tidak jelas kedengaran. Malu kalau-kalau didengari keluarga terutama ayahnya yang selalu terjaga di tengah malam.

Untuk ke bilik air atau ke dapur, terlebih dahulu perlu melintasi bilik Azima yang terletak bersebelahan. Bilik itu dikongsi dengan adik perempuannya, Alida yang muda setahun darinya. Alida belajar di universiti di barat tanahair dan tinggal di asrama. Hanya sekali sekala sahaja pulang bercuti. Sedang dia selaku anak sulung bekerja membantu keluarga setelah menamatkan diploma 2tahun yang lalu.

Dia juga tinggal di rumah sewa tetapi di hujung minggu dia lebih suka pulang ke kampung dan menghabiskan masa bersama keluarga. Baginya, keluarga adalah segala-gala. Bermesra dengan adik-adik lebih menyenangkan dari keluar bersama teman-teman. Setelah lama bekerja dan bergaul dengan bermacam orang, dia dapat merasakan antara dia dan Fauzan semacam langsung tiada titik pertemuan.

“Abang…tolong faham perasaan Zima! Zima dah tak boleh terima semua ni,”
“Zima, maafkan abang! Mungkin sebab abang dah lama sangat tak balik Malaysia, abang tak tahu suasana dekat sana macammana, tapi Zima tak boleh la buat abang macam ni, abang janji lepas ni, abang tak marah-marah lagi!”
“Tak, bang! Zima dah buat keputusan. Untuk kebaikan abang dan Zima, baik kita berpisah. Abang tak payah berjanji lah dengan Zima, dah banyak kali abang janji begitu, dan setiap kali tu juga lah abang akan buat benda yang sama. Lepas ni, abang carilah orang dekat sana yang boleh buat abang gembira selalu. Tak payah lagi nak berleter-leter, nak marah-marah macam ni.”

Petang itu, Zima luahkan segala rasa yang terbuku di hati. Betapa selama ini, Azima begitu terseksa kerana terikat dengannya, dia selalu dipersendakan oleh adik beradik dan rakan-rakan. Fauzan langsung tidak menyangka ,sampai begitu berat penderitaan yang dirasakan Azima. Selalunya jika ditanya, Azima hanya mengiakan atau diam. Itulah bahananya, bila kita terlalu banyak berahsia.

Setelah dipaksa, akhirnya dia bercerita. Sayang Azima rupanya sudah lama berbagi dua. Cuma Azima tak punya kekuatan untuk meluahkan perasaan yang terpendam. Harapannya agar Fauzan akan mengerti perubahannya serta boleh berubah menjadi seorang yang lebih bertimbang rasa.

“Astargfirullahal’azim,” beberapa kali Fauzan mengambil nafas panjang. Dengan sebak yang memenuhi ruang, dadanya rasa tersekat-sekat seolah-olah batu besar menghempap dada.
“Mudahnya Zima cakap! Zima dah curang dengan abang,tahu tak? Zima ingat mudah ke abang nak lupa ini semua? Hari-hari abang hidup dengan kenangan kita, Zima dah jadi sebahagian dari hidup abang. Abang dah beri seluruh hati abang untuk Zima. lepas ni macammana abang nak teruskan hidup!”
“Memang Zima curang pun! Sebab tu ah Zima nak minta putus. Bang, sebenarnya kenangan kita bukanlah banyak mana pun! Sekejap je kita kenal kan! Sepatutnya kita tak patut bercinta dulu, mungkin Zima tak matang lagi masa tu. Abang pun jangan ah pentingkan diri sendiri, abang selaku orang yang belajar agama sepatutnya lebih faham, kan!”

sambil menangis tersesak-esak ucapan itu terkeluar dari mulut Azima. Azima tahu, Fauzan memang sangat menyayanginya cuma dia sudah tidak tahan dengan sikap Fauzan yang terlalu mengongkong kebebasan hidupnya, inginkan dia menjadi seperti seorang bidadari syurga yang tak punya apa kekurangan dan macam-macam lagi.itu satu penghinaan, dia sedar siapa dirinya.
Hanya dengan menceritakan perkara sebenar begini baru Fauzan akan sedar. Dia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura saban hari. Dia tidak kisah jika Fauzan ingin membencinya sekalipun.

############################################


Perbualan terhenti seketika. Fauzan kaku mendengar kata-kata itu. “Kita tak punya banyak kenangan?? Aku pentingkan diri sendiri??dan yang lebih tajam lagi,aku sepatutnya lebih faham?!Benarkah begitu?”

Ya, dia memang sepatutnya lebih faham tapi kerana cinta ini, dia sengaja buat-buat tak faham. Sengaja dibiarkan matlamat menghalalkan cara, beralaskan cinta kerana Allah dan macam-macam alasan lagi. Hari ini, tuhan telah menguji setakat mana cintanya itu benar-benar kerana-Nya.

Adakah dengan sekadar dipisahkan oleh dunia, jadi alasan untuk dia membenci Azima dan berputus asa? kalau benar cintanya ini kerana Allah dia patut menghormati keputusan Azima, tak membencinya, apatahlagi untuk marah tapi terus mendidiknya atas nama ukhwah fillah. Inilah baru namanya pengorbanan!

Adat bertanam memang begitu. Sampai satu ketika bila pohon tak berbuah, daun mulai meluruh, tanah perlu digala semula. Pohon-pohon tak berguna perlu ditebang, tunggul dan semak perlu dibakar . Serahkan ia pada petani moden, berfikiran jauh dan bermodal besar. Nescaya hasilnya nanti lumayan.

Petani tua yang jumud lagi miskin seperti dia, takkan berani lagi untuk mendekat. Di celah teratak yang tak bernama, dia hanya mampu mengintai. Walaupun tanah bukan milik sesiapa, petani moden itu bukan lawannya.

Dulu sewaktu bercinta dia mabuk apabila ditimpa ombak besar. Dia dibuai-buai bayu cinta sehingga dia terlena. Dia juga karam di lautan dunia sebelum sempat memulakan pelayaran.
“abang!abang ada tak lagi dekat sana tu? Abang tak apa-apa ke?Abang menangis ke?Zima minta maaf sekali lagi. Zima minta ampun banyak-banyak sebab rahsiakan ini semua. Harap abang boleh faham”
“InsyaAllah!”
Hanya itu yang mampu dilafazkan. Fauzan memberi salam terakhir lalu memohon diri. Sambil melangkah keluar dari CyberCafe menuju masjid Sarbini yang terletak hampir seratus meter sahaja dari situ, matanya masih lagi bergenangan, mulutnya terketar-ketar mengucap Subhaanallah!
Maha suci tuhan yang menjadikan cinta kemudian mengindahkannya kemudian memberinya kepada manusia kemudian mengambilnya kembali bila-bila masa.Fikirannya menerawang entah kemana. Ayat quran yang menjadi muqarar kuliahnya terngiang-ngiang sekali sekala di benaknya.

“boleh jadi kamu membenci satu perkara sedangkan ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu suka satu perkara sedangkan ia buruk bagimu”
“Benar, Allah ingin memuliakan aku dengan memberi aku peluang untuk kembali berada di atas kapal dakwah. Belayar bersama rakan seperjuangan seperti dulu membelah lautan kejahilan, mendidik ombak-ombak besar yang ganas agar menjadi buih-buih yang tak bermaya”

Angin petang bertiup kuat. Air mata Fauzan kering sebelum sampai ke pintu masjid. lima belas tahun dulu, air mata inilah yang mengalirkan arus pertemuan. Bila laut bergelora, airmata kembali keluar menutup apa yang ia mulakan. hadirnya bagai si ibu yang menenangkan hati anak yang manja.

tiang-tiang elektrik yang tinggi di tengah-tengah Suqq Sayyarat bergoyang-goyang ditiup angin. kabelnya yang bersimpang siur mengiringi perjalanan Fauzan dengan mendendangkan irama-irama sedih lagi pilu,

duhai bayu yang mendingin,
tembusilah tubuhku yang kurus tak bermaya ini,
cubalah untuk mencari ruang-ruang yang hangat
untuk kau sejukkan dengan cinta manusia!
Nescaya kau takkan ketemu,
karena hati ini,
juga segala yang diawasi olehnya,
sudah dilamar oleh cinta
yang Empunya cinta”
-waza-
1-2-2010



p/s-hanya rekaan semata-mata. Jikalau mengena pada diri sesiapa mungkin ianya sekadar kebetulan yang tidak disengajakan. Bila sudah namanya kebetulan, mana-mana yang salah dan silap tak perlulah diperbetulkan.wallahua’lam.

Saturday, 20 February 2010

w.a.s.w.a.f

Bismillahirrahmanirrahim..
Maseh ada lagi rupanya kenangan kenangan indah yang mampu kukutip dalam waktu terdekat ini. nilai kemesraan yang selama ini sembunyi, tiba-tiba hadir menampakkan diri. Masing-masing cuba menanam kembali benih-benih ukhuwah. Alhamdulilah, wangiannya semerbak menyentuh hati-hati yang suci.

Semalam, Hikmat 2010 KPT selamat disempurnakan. Aku jadi penolong ketua kumpulan. Ertinya, untuk beberapa hari, aku harus berkampung. Juga harus keluar dari kepompong. Selama ini, hari-hari dipenuhi dengan penantian tiket Kuwait yang menyeksakan. Tak apa, biarlah 3hari ini kita habiskan masa bersama. Aku ajarkan pada kalian, apa pentingnya kebersamaan.

Malamnya, pentomen diadakan. Aku dipaksa oleh adek-adek baru untuk membuat cerita. Mungkin mereka maseh ingat pentomen aku zaman Smaasza dulu. Ahh, tu kisah lama. Selepas Maghrib cerita direka, sesudah isyak, cerita dibaca. Alhamdulilah, kami menang tempat kedua. kata Waza “menang sorak, sikoh tergadai”. ini karena di akhir majlis pengacara, membongkar sesuatu rahsia. majlis tersebut turut disaksikan oleh akhawat-akhawat kita.
……………………………………………………………………

We are sibling we are family

(muzik Instrumental dipasang)
-Dalam hidup ini, saat paling bahagia di dalam hidup seseorang apabila dapat bersama dengan insan-insan yang tersayang. Terkadang kita keliru dengan menentukan siapa yang lebih patut kita sayang dan kita hargai.

Nanti, setelah kita kehilangan mereka baru terasa betapa indahnya nikmat kebersamaan. Tiada gunanya kenangan jikalau tak bisa diingat. Jadi aku sudi-sudikan diriku untuk bercerita pada kalian. Moga-moga kalian dapat menghayatinya.

-kisahnya bermula pada majlis HIKMAT yang dianjurkan oleh KPT suatu masa dahulu. Semua anak-anak Terengganu yang berada di seluruh Mesir balik ke kompleks. Ada yang datang dari Dumyat..
(seorang pelajar keluar membawa karung guni. Lalu bertemu dengan seorang pelajar yang lain. Mereka bertegur sapa dalam bahasa indon)

a-Assalamualaikum
b-waalaikumussalam
a-antum ini dari mana..mahu ke mana?
b-ana dari Dumyat mahu ke Ramsis, dari Ramsis mahu ke Asyier, dari Asyier teruuus ke KPT. Ada acara di sana.
a-ooo…tapi apaan ini? kayaknya berat bangat sih! (sambil menunjuk ke arah guni)
b-ini kerang. Mahu dibawa pulang. Kamu mahu satu? Nah, ambik baggi!
a-Syukran.
(kemudian mereka berpisah..kemudian berpaling kembali dan bertanya)

a-eer..lau samah..enta indonesiin? (ayat kcb)
b-la’ ana malizi. Min terenjanu.
a-loo bakpe dok royak awal-awal. Ambe pong ganung gok. Nak balik rumah ganung ke?meh ah gi same-same.
b- jom

-akhawat-akhawat kite di alex dan mansurah pun tidak kurang hebatnya. Masing-masing tak ketinggalan untuk pulang.
(2 orang keluar berjalan menunggu tremco)

a-ammu!(3x)..(memanggil dengan manja sambil tangan melambai-lambai)
b-aiwah, ya binti!ya gamilah! Ya habib albi! Ruuh Fin Baah? Fi hagah muayyanah?
a-ammu…ehna aiz ruuh Qaherah
b-qahirah?leeh?hina quwais.
a-ehna aiz il’ab (2x). il’ab futsal( sambil kaki menggayakan gaya orang bermain bola)
b-ok(3x)..irkab
(drver membuka pintu dan menolak dengan kasar.)
a-syukran ya ammu
(dalam perjalanan, akhawat tadi mencuit bahu driver dan bertanya..)
a-ammu…lau samah, namanya siapa?( ayat kcb)
b- Abdullah( suare garau)
( akhawat kite pun tersenyum sendiri. Bajet macam anna althafunnisak.huhu. masa ni lagu kcb dimainkan…

Bertuturlah cinta mengucap satu nama
Seindah garisan sabdamu dalam kitabku
Cinta yang brtsbih mengutus hati ini
Kusandarkan hidup matiku padaMu

Ketka cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud syukur padamu atas segala cinta)

-begitulah ragam akhawat kita. Sangat terpengaruh dengan cerita-cerita Indon…Di Kpt, bermacam-macam permainan diadakan.

-Ada bola takraw(2org kelua buat gaya servis), ada bola tampar(3org keluar buat gaya spike), ada tarik tali(enam org keluar bermain. Yang kurus menang dengan mudah tarik sambil korek telinga)
-bukan sahaja acara padang. Tapi ada juga acara dewan.
(semua berkumpul untuk bernasyid.nyanyi lagu biasa sambil buat suara hiphop. lagu kedua nyanyi lagu maher zain.baarokaalah..)

-lalu…timbullah satu masalah yang tak terduga. Semua permainan dimenangi oleh kump 3. Kumpulan lain tak berpuas hati.
(kump lain datang memprotes)

a-mana aci gini. Awok mung menang banyok. Sek-sek mung gagah-gagah belaka.
b-sahabatku, janganlah begini. Kita ni kan saudara. Lagipun kumpulan kami menang kerana moral kami tinggi. Kami sentiasa bersatu. We are sibling we are family ( baca dalam slang org putih)

a-ahh..xkire ah. Lepas ni kite putus kawan.
-mulai dari saat itu, mereka pun berpecah. Masing-masing membawa haluan sendiri. Bila berjumpa bermasam muka. Kalau bersalam, mereka menolaknya. Ahh, sungguh kurang sopan mereka itu!
(4orang keluar melakonkannya)

-semuanya berubah di suatu hari. Seorang dari mereka telah pulang lewat. Dia diekori oleh seorang mat hitam

a-hei you! You have lighter?
b-what? I don’t understand? I’m sori!(gaya man belon)
a-walla’ah. Yakni kabrit!
b- no(3x)

-mat hitam itu terus mengugut sahabat kita dan menghulurkan pisau. Lalu seorang sahabat dari kump 3 muncul.
a-hei you, if you wanna fight..fight with me. Not with him. He’s my friend. My very(3x) good friend.
b-ok lets see who’s the winner.
(mat hitam buker langkah tinju. Seorang lagi buke buaah silat. Bergaduh ala matrik. Mat hitam lari)

a-wei, mung ok x? napok sakit je.
b-aku ok.. terime kaseh banyok ah..aku..sebenornye malu ke mung.selame ning aku ngenat mung macam-macam.
a-eh..xpe ah. Aku tak kisah pun…
b-betol ke ning?
a-hoo, mung tu..badan je besor..lembik sungguh benor. Meh ah kite balik.( dengan nada bergurau)

-begitulah. Walaupun kenangan ini agak pahit namun ada kemanisan di dalamnya. Kemanisan ini kita akan rasa saat sendirian. Saat kita duduk termenung di jendela. Kesimpulannya..jangan protes kemenangan kump 3 coz..

“We are sibling we are family”

p/s-terima kaseh kepada para pelakon. aiman thun1,mail walidain, mat salikin(bndahri kpt), amer syoubra, zahani tahun1, hakim thun1, poyok( peserta mithali), muaz medic, farezuan(exco bip),anas(timb su), syakir (korea). Juga suara latar, najmi medic.

-waza-
20-2-2010

Friday, 29 January 2010

“Ciptalah kenangan yang halal dan enak”

Itu pesan aku pada diri sendiri. Manis atau pahit itu bukan yang utama. Itu hanya perkiraan yang boleh diubah mengikut acuan hati. Kalau hari ini kita memandang peristiwa kelmarin itu pahit, boleh jadi ia jadi manis keesokannya. Atau pahit kembali selepas itu. Peristiwa seperti masakan. Manis atau pahit kita yang tentukan. Halal atau haram, kita mengikut acuan tuhan.

Untuk menjadikan semua makanan itu enak, bukan payah. Kita perlu lidah yang peka. Sebelum makanan masuk ke kerongkong, lidah perlu meneliti bahan-bahan yang diterima. Kerongkong juga perlu peka, ada bahan yang diterima lidah tapi tak sesuai untuk perut. Lidah yang peka dapat menjaga badan dari penyakit.

Kenangan yang halal pun begitu. Ia adalah hasil dari perbuatan kita dulu dan sekarang. Ia akan disoal dan dinilai sekarang dan akan datang. Kalau dari sekarang kita berazam untuk menjauhi perkara yang haram, itulah dia kenangan yang halal untuk kita.

Banyak caranya untuk menjadikan kenangan itu jadi halal lagi indah. Yang utama semestinya takwa.takwa adalah ibu segala kebajikan. Sifat- sifat terpuji yang lain adalah anak cucunya.

Terkadang orang sekarang suka dengan ungkapan yang berprinsip atau berfalsafah. Mereka adalah kebanyakan kita yang lahir sesudah perkembangan Islam ke serata dunia. Ilmu falsafah Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa arab dan disebarkan . kemudian muncullah beberapa sosok ilmuan islam yang mengambil peranan memurnikan ilmu ini . sampah-sampah syirik, khurafat dibersihkan sehingga sesuai digunapakai oleh orang islam. Antaranya , Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali Rahimahullah.Apa yang aku cuba buktikan? Sekadar mencari alas buat hamparan kata-kataku selepas ini.

Bagiku, untuk jadikan kenangan sesuatu yang enak, biar kita yang cipta kenangan itu(dengan izin Allah). Jangan biar kenangan kita hanya sebahagian kecil dari diari hidup orang lain. Ketahuilah, pelakon tambahan itu meramaikan. Pelakon jemputan pula sekadar meraikan. Jadilah pelakon utama. Kita akan punya kekuatan dalam memutuskan sesuatu.

Kita memang terikat dengan kemahuan pengarah tapi pengarah tak menghalang pelakon dari menonjolkan identiti diri. Bila kita ada kekuatan, kita akan berjalan beriringan dengan fatamorgana yang mencantikkan dunia. enak dan bahagia.

Kenangan yang enak itu sekiranya halal akan menukarkan famorgana jadi mahligai yang besar, taman yang rimbun daunnya, bidadari sebagai isteri yang suci. Di sudut matanya penuh keindahan, sebaya umurnya, sangat putih, cantik berseri wajahnya, gadis-gadis remaja, dan sekiranya bidadari ini meludah di samudera nescaya airnya menjadi tawar, kerana tawarnya air ludah bidadari. Subhaanallah!

Kita kembali kepada kisah mencipta kenangan. Bagaimana jika kita telah mencipta pelbagai kenangan yang haram? Adakah layak untuk kita mencicip perbendaharaan kenikmatan syurga yang ghaib dan misteri ini? adakah layak untuk mendampingi kekasih yang sentiasa menanti dan merindui kita di sana?

Jawab ulama’ dengan ilmu,


“ kenangan itu prestasi manusia dalam memanipulasikan nikmat tuhan. Bertaubatlah atas nikmat yang disalahguna. Kita berdosa dengan Allah dan Allah punya banyak nama.selain Ar-Rahman, Allah juga adalah At-Tawwab. Menyesallah kemudian meninggalkan dosa kemudian berazam untuk tidak mencipta kenangan sebegitu.”

Bagaimana dengan kenangan yang tidak enak? Apakah ada cara untuk memaniskannya?
Jawabku dengan pengalaman,
“Kalau kamu tak mampu mengubah sesuatu benda, ubahlah pandangan kamu terhadapnya”
Pernah sekali, aku jadi pejalan kaki yang secara tak sengaja masuk dalam cerita seseorang. Kiranya aku pelakon sampingan. Aku rasa sangat bengang sebab watak yang aku lakonkan agak banyak. Lebih banyak dari hero. Sama banyak dengan heroin. Sekali pandang, aku seperti watak utama. Itu pengakuan dari teman yang turut sama mengikuti sinetron sedih luga ini. Aku bahkan tak meminta imbuhan, tak minta dikenang jasa pun. Cuma kesal sebab heroinnya cantik!
Dulu, sebelum sinetron ini disiar, sang hero pernah mendatangiku. Heroin sembunyi di belakang. Malu. Katanya seraya memujuk,

” sebenarnya ini adalah ceritamu. Ia berlaku tanpa disengajakan. Maafkan kami kerana membuat saudara terasa ditipu.”

Mula-mulanya aku tak boleh menerima. Aku marah bagai nak rak. Aku minta dikembalikan pita asal rakaman. Semua orang tak setuju dengan tindakanku.kata mereka aku ego lagi tak dapat menerima hakikat. aku katakan pada hero,

“kamu tak tahu apa yang aku rasa! bagaimana rasanya kalau kamu ditipu begini!”
“sabarlah..aku faham perasaanmu. Aku juga pernah ditipu. Tapi aku boleh menerimanya dengan hati yang lapang,”
balas sang hero. Kata-kata itu buat aku tercabar.

Tak lama kemudian, si heroin yang cantik keluar tiba-tiba. Dia meminta maaf sampai menangis teresak-esak. Dia memujukku dengan airmatanya. Aku tersentuh atas kelembutan jiwanya tapi tetap tak peduli. Aku terus membebel tak henti-henti. Si heroin hilang sabar.

“hei, saudara! Sedarlah sikit, kamu tu hanya pelakon sampingan. Kamu muncul secara tak sengaja je pun.Kalau boleh, kami tak nak pun kamu masuk dalam cerita ini! yang sudah tu, sudah la. Tak malu betol!”

Aku terdiam. Aku pergi dan sekarang antara aku dan pelakon-pelakon dalam cerita ini telah terputus hubungan. Dulu memang ia pahit. Pantang disebut, aku terasa. Lama-lama ia manis. beban jadi sumber kekuatan. Masa jadi satu penukul yang besar yang memecahkan batu jadi debu yang suci. Bila perlu, ia yang kuguna untuk menyucikan.

Kalau ada teman yang menonton cerita tadi bertanya, aku sudah tak segan untuk berkata,
itulah cerita pejalan kaki yang yang tak sedarkan diri”

Kemudian, kami semua ketawa sesama sendiri mengenang kejahilan diri. Masing-masing punya kenangan. Semanis mungkin, mereka cuba ungkapkan.

-Waza-
28-1-2010
p/s- terima kaseh di atas kebesaran jiwamu!

Wednesday, 27 January 2010

Semanis Sukkari, Setawar Sukkar

Sukari adalah sejenis limau di Mesir. Limau yang paling kusuka. Rasanya lemak-lemak manis. Harganya murah. Buahnya juga kecil berbanding Safandi(limau kulit keriput) dan Abu Surrah(limau besar). Buah ini walau kecil, manis dan murah tapi tidak berapa diminati berbanding limau yang lain. Sehingga namanya juga dilupakan oleh kebanyakan orang.

Kadang- kadang terfikir juga di hati. Yang dikatakan nikmat itu, dimana letaknya? Bukankah nikmat limau pada manisnya? Nikmat membeli pada murahnya. Adakah orang-orang yang membeli telah tersilap?

Ya, orang yang membeli semuanya bersalah mengikut seleraku. Tapi benar pada selera mereka. Selagimana selera itu tak memabukkan, mempunyai banyak pilihan, ia adalah milik semua, aku tak layak memaksa orang mengikut mahuku. Kalau ada yang mahu memaksa, berikan hak yang batil itu pada mereka, hakku adalah menikmati. Kalau mereka mendepa tangan, aku si bongkok yang menundukkan kepala.

Di Mesir, sukkar(gula) dihasilkan dari tebu dan ubi. Tebunya tawar ubinya belum pernah dirasa. Gulanya kurang manis. Kenyataan yang boleh diterima bahasa. Pepatah di sini menyebut, manis seperti ‘asal (madu) bukannya gula. Walaupun tak manis, harganya mahal membedil.

Harga sekilo gula di Mesir sekarang 5 genih illa rub’(kurang 25sen). Untuk menghasilkan seteko teh susu yang power memerlukan 8sudu besar gula, 3sudu penuh the ‘arusa, satu paket susu cair. Itu pusaka peninggalan Kamal, diturunkan daripada Haadi kepada Sham. Sanadnya rosak bila sampai kepadaku. Alasannya, perubahan zaman!

Semua orang menderita akibat serpihan bedil itu. Tiada pula yang berhenti dari membeli. Gula adalah dhoruriat, hajjiyat, dan tahsiniyyat; biarpun telah tertanggal sebahagian sifat asalnya iaitu manis.

Kehidupan sekarang banyak berubah. Satu benda yang pada suatu ketika jadi kehendak sekarang sudah menjadi keperluan. Contohnya kenderaan, telefon(selain aku), peti sejuk dan lain-lain. Boleh jadi zaman akan datang kita semakin berhajat kepada sesuatu. Atau mungkin kita kembali kepada zaman lama.kita hanya perlu air, udara, makanan, pakaian, dan tempat tinggal atau lebih kurang dari itu.

Sekarang adalah zaman yangmana kebendaan menduduki tempat tertinggi dalam jiwa manusia. Biarpun kebendaan itu membuatkan semua orang susah, tertekan, terpaksa berkorban masa, ia tetap dikejar. Kebendaan itulah gula Mesir. Mahal tapi tawar.

-waza-
26-1-2010

Wednesday, 20 January 2010

iman (1)

Iman adalah cahaya yang menyinar. Ia akan menampakkan dengan jelas seluruh tulisan yang sedia ada dan tertulis dalam diri manusia. Iman juga menyinari alam semesta. Ia membuat masa lalu dan masa akan datang selamat dari gelap gelita.

Rahsianya tersembunyi dalam sebuah perumpamaan berdasarkan satu rahsia ayat yang mulia:


“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan(kekafiran) kepada cahaya(iman)...” Al-baqarah-257

Aku melihat dua buah gunung menjulang tinggi yang saling berhadapan. Di atasnya telah dibangunkan sebuah jambatan besar yang mencengangkan. Di bawahnya ada sebuah lembah yang sangat dalam. aku berdiri di atas jambatan itu dan dunia diselimuti oleh kegelapan yang tebal dari setiap arah. Hingga tak satupun benda yang terlihat.

Lalu aku menoleh ke kanan. Tiba-tiba terlihat kuburan besar yang diselimuti kegelapan yang tak berhujung. Kemudian aku menoleh ke samping kiriku. Seolah-olah aku melihat gelombang kegelapan yang begitu dahsyat. Musibah dan bencana siap untuk menerkam. Aku lalu melihat ke bawah jambatan itu, nampaklah di mataku jurang yang sangat dalam.

Ketika itu aku tak memilki sesuatupun kecuali lampu suluh yang suram. Aku pun menggunakannya sehingga terserlah pemandangan yang menakutkan. Aku melihat singa- singa, binatang buas dan liar serta bayangan seram menghantui setiap tempat.

Aku akhirnya berkata,

“seandainya aku tak memiliki lampu suluh yang memperlihatkan semua makhluk yang menakutkan itu”. Kerana ke manapun lampu itu diarahkan ia tetap menampakkan hal-hal yang mencengkam.kemudian aku menyesal dalam lubuk hati dan mengaduh seraya berkata,

“sungguh lampu suluh itu musibah dan bala terhadap diriku”.

Kemarahanku pun membara.kulemparkan lampu itu ke tanah sampai hancur sehingga dengan pecahnya ia, seakan-akan aku menekan butang lampu elektrik ajaib yang tiba-tiba menyinari alam. Sampai kegelapan itu sirna selamanya. Cahaya memenuhi setiap tempat dan arah sehingga hakikat segala sesuatu nampak jelas.

Akhirnya aku mengetahui bahawa jambatan gantung yang luar biasa itu hakikatnya adalah sebuah jalan yang membentang dari sebuah lembah yang luas. Kuburan besar yang aku saksikan di kananku adalah taman-taman yang hijau nan indah, majlis ibadah, pengabdian yang dipimpin oleh orang-orang nurani.

Sementara lembah yang begitu dalam, puncak yang menyeramkan, peristiwa aneh di sebelah kiriku tak lain hanyalah gunung yang dipenuhi pepohonan hijau yang menarik pandangan. Di belakangnya terdapat jamuan besar yang mempersonakan dan tempat rekreasi yang indah. Benar, itulah yang aku saksikan dalam imaginasiku.

Adapun makhluk yang menyeramkan itu, pada dasarnya hanyalah haiwan jinak seperti unta, lembu, biri-biri dan kambing. Saat itu aku melantunkan ayat Allah Taala.
Aku pun mengulang “segala puji adalah milik Allah atas cahaya iman.” Kemudian aku pun tersedar dari lamunan yang panjang.

Demikianlah kedua gunung tersebut adalah awal dan akhirnya kehidupan. Alam dunia dan barzakh. Jambatan itu adalah jalan kehidupan. Sisi kanannya adalah masa lampau. Sisi kirinya adalah masa depan. Lampu suluh adalah egoism manusia yang angkuh serta membangga-banggakan ilmunya sehingga tidak mengendahkan wahyu dari langit. Binatang buas adalah peristiwa alam dan makhluk ajaib di dunia.

Manusia yang bergantung kepada keegoannya semata-mata akan terjerat dalam gelapnya kelalaian dan belenggu kesesatan. Cahaya lampu yang suram adalah pengetahuan yang terbatas dan menyimpang.

Ia menggambarkan masa depan bagai tempat asing yang dipermainkan oleh malapetaka dan bencana alam. Caranya denganmengembalikan masa depan kepada prinsip kebetulan yang yang buta.ia juga menggambarkan semua peristiwa dan makhluk-yang hakikatnya tunduk pada Allah Taala- bagai bintang buas yang mematikan.

Inilah bukti ayat-ayat Allah yang mulia,

“dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan. Yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan(kekafiran)” al-baqarah-257

Adapun jika pertolongan Allah menemui manusia, iman menemukan jalan menuju hatinya. Keangkuhan jiwa hancur serta mengikuti petunjuk Alquran. Maka hal-hal tersebut semuanya menyerupai keadaan yang ada dalam imaginasiku. Hingga alam semesta diselimuti dengan cahaya yang terang.


“Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi” -Annur:35

Masa lalu bukanlah sebuah kuburan yang menyeramkan seperti yang diduga. Setiap fasa dari masa lalu- sebagaimana yang disaksikan oleh mata hati- penuh dengan tugas penghambaan di bawah telunjuk seorang Rasul atau sejumlah wali yang soleh yang mengembangkan dakwah islam serta mengukuhkan tiangnya dalam bentuk yang sangat sempurna.

Tatkala ia memandang kearah kiri yang merupakan masa depan, di sebalik dahsyatnya proses perputaran hidup terdapat istana kebahagiaan syurga. Di dalamnya terdapat jamuan Allah yang dibentang luas tak berhujung.

Setiap peristiwa alam pada hakikatnya hanyalah petugas yang diperintah dan patuh. Taufan, hujan dan semacamnya yang namapak sedih dan naïf hanyalah manifestasi hikmah-hikmah Ilahi yang mulia. Kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi dan perkuburan sebagai pintu kebahagiaan yang kekal.

Bandingkanlah sisi yang lain dengan cara seperti ini dengan menerapkan hakikat pada perumpamaan tersebut.

-waza-
20-1-2010
p/s-terjemahan Risalah Nur Bediuzzaman Said Nursi

Saturday, 16 January 2010

KUDB

Bismillahirrahmanirrahim..

Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi Maha Pengaseh, aku mulakan kata-kata ini. Ucapan yang bagaimana lagi harus keluar dari detikan jariku malam ini. Tahun baru mengingatkan aku akan keperluan untuk maju setapak. Ke atas untuk peringkat yang lebih tinggi. Ke depan untuk matlamat yang lebih dekat. Ke kanan untuk ruang yang lebih lapang. Tahun lalu aku pernah menterjemah kata-kata Syeikh Muhammad Ghazali dari kitab ‘Jaddid Hayatak’.

Katanya, “tak perlu menunggu tahun baru, hari lahir, atau waktu-waktu tertentu untuk berubah. Seperti kita mengemas meja tempat kita bekerja atau belajar. Kita akan menyusun buku dan fail bila sedar ia berselerak. Kertas tak berguna perlu kita buang kerana mencacatkan pemandangan. Debu-debu juga perlu dibersihkan demi keselesaan.”

Demikian juga hati. Ia terlebih patut dibersih dan dikemaskini. Ia tumbuh dengan ranting yang banyak. Pangkaslah ia dengan bentuk yang menarik sebelum membesar menjadi dahan. Bila timbul kesedaran, kita patut berubah sebelum ia tenggelam.

Tadi, aku solat di surau Kpt. Lama tak singgah di sana. Mungkin permaidani yang pernah menjadi tempat sujud itu sudah tak mengecam dahi dan hidung ini. Selesai solat, tak tahu ke mana lagi mana harus pergi. Rumah pusaka Nawwar, masjid Muhammady,cyber café Tornado, atau kedai runcit sebelahnya. Tempurung hidup semakin sempit. Entahlah..aku sudah cemuh bercakap tentang ruang!

Akhirnya aku tersandar di dinding kiri surau. Mata berpusing memerhati mata-mata lain yang memerhati mata yang lain. Tiada mata yang menentang pandangan kuyu ini. Aku hanya ingin bersedekah. Tiada siapa yang sudi menerima. Akhirnya aku tersenyum menatap tiang. Aku gantungkan padanya cermin imaginasi. Jadilah aku si gila yang bersedekah untuk diri sendiri.

Di sebelahku meja amplifier. wayar-wayar bersimpang siur disitu. Alangkah indahnya jika aku seperti wayar-wayar itu. Berebut-berebut untuk memberi kebaikan. tiap yang mendengar laungan azan itu, lalu bangkit menghadap tuhan, sudah tentu ada bahagiannya untukku. Tak berkurang walaupun satu. Nampak pelik bagi akal yang sekular tapi bagi mukmin itulah rahmat.

Aku mencapai sebuah buku berwarna putih yang mendampingi al-quran di atas meja. Buku Majdi Hilali “Asbabu Dho’fin nafsi’ memang menarik. Aku tertarik pada putihnya. Seminit membelek, aku menyimpulkan. putih adalah kulit. Quran adalah isi. Meja adalah dunia. aku adalah manusia biasa yang memandang pada putih lebih dari segalanya.

Menurutku, putih bukan sekadar hiasan yang cantik. aku pengejar ketenangan yang wujud di balik putihnya. Ia membangkit seri meja yang kusam. ketahuilah,
sesiapa yang cuba mencorakkan putih selain quran, bererti dia
melukaiku.”

Otakku ligat membuat perumpamaan dalam beberapa bulan kebelakangan ini. mulanya tak pasti. Akhirnya tak tahu. Kemuncaknya sekarang. Seolahnya, semua benda yang berlaku di dunia ada ada tali yang mengikatnya. aku suka jadi salah satu tangan yang mengikat kemudian kembali merungkaikan

Barangsiapa yang kenal dirinya, maka dia akan kenal tuhannya”

Ia mungkin bermula sewaktu mendengar pengajian kitab mauizatul Mu’minin karya besar Al-Qasimiey. Tok Guru Nik Aziz telah mengindahkan pengertiannya. Selepas itu, aku terbeli tafsir juzuk Amma Syeikh Mutawalli Sya’rawi dan buku pendakwah terkenal Mesir, Amru Khalid lalu terbacanya pula. Penuh dengan perumpamaan yang santai lagi sampai. Begitu juga dalam kitab terjemahan Al-munthalaq. Kitab Syeikh muhammad Ahmad arrasyid walaupun bercerita tentang haraqi tetap terjumpa di dalamnya pembawakan yang sama.

Akhir sekali, tadi aku dihadiah seorang teman sebuah kitab. ‘Iman dan manusia’. Koleksi dari ‘Risalah Nur’ karya agung Bediuzzaman Syed Nursi. Kitab ini buatku terkapai-kapai di lautan bahasa. Rupanya, terlalu banyak kitab yang indah susunan katanya. Ia terhasil dari tangan pengarang-pengarang Murabbi sepanjang zaman.justeru, aku kagum dengan kehebatan mereka sekaligus kebodohan diriku.

Aku jatuh cinta pada pekerjaan ini bila aku lihat ada kepuasan padanya. aku boleh mengecilkan keluasan langit dan bumi dengan berkata,
“langit ibarat suami, bumi ibarat isteri, manusia adalah anak-anaknya.
Matahari dan hujan adalah nafkah yang dibahagi. Hasil dari gaji yang diberikan
majikan suami. Darinya, isteri menghidangkan masakan yang sedap-sedap untuk
anak-anak. "

Manusia yang baik adalah mereka yang mengenang jasa setelah kenyang. Dengan nikmat yang diturunkan dari langit dan yang ditumbuhkan dari bumi. Tubuhnya mesti berbakti pada bumi sambil tangan sentiasa menadah ke langit. Bukan bererti dia bertuhankan langit atau percaya bahawa zat yang memberi rezeki itu berada di langit. Allah itu majikan sekalian makhluk yang sekali-kali tidak bertempat.

Dia anak-anak yang baik. Dia tahu ayahnya tiada kuasa. Ibunya tiada kuasa. Yang berkuasa mesti lebih hebat dari ayahnya. Langit lambang ketinggian dan kebesaran. Lalu, dia mengangkat tangannya menadah bagi membangkit kehinaan diri dan ketinggian kuasa Allah. Dia seperti si miskin yang kelaparan. Dengan menadahkan tangan ke atas sambil meminta, dia merasa lebih pantas permintaannya diterima.

Kalam sebegini tentu akan ditentang oleh puak Wahabi yang mengatakan Allah ada di langit. Aku bukan mereka. Aku sekadar meminjam nama.

Aku juga boleh membesarkan watak manusia mengikut kesesuaian. Contohnya,
manusia umpama besi yang biasa. Iman adalah karya seni yang unik. Pasar
budaya adalah kemuliaan yang diperolehi (syurga). Kedai besi buruk adalah
kekafiran.
Bukan sesuatu yang jarang terjadi sepotong besi memiliki nilai seni dan keindahan yang sangat tinggi. Sebuah karya seni unik yang bernilai ribuan ringgit dapat lahir meskipun dari sepotong besi yang biasa. Ketika barang itu dipasarkan di pasar budaya, kemudian mereka tahu pembuatnya mahir dan terkenal, ia jadi bernilai. Tempat duduknya di dalam cermin kaca bersama perhiasan yang senilai dengannya. Adapun jika dibawa ke kedai besi buruk, maka tak seorang pun berminat untuk membeli.

Apabila cahaya keimanan bersemayam dalam diri manusia, maka seluruh pahatan yang penuh hikmah padanya dapat dibaca dengan cahaya itu. Orang beriman membacanya dengan penuh kesedaran bahkan menarik orang lain untuk membacanya juga. Seolah-olah dia berkata,
aku adalah ciptaan Sang pencipta yang Maha Mulia. Lihatlah bagaimana rahmat
dan kemurahannya terserlah dalam diriku dengan makna-makna yang luas”.
Itulah karya seni Rabbani. Jika kekafiran yang merupakan pemutus hubungan dengan Allah itu menyelinap dalam diri manusia, maka hikmah akan jatuh dalam kegelapan. Ia tak mungkin mampu ditelaah dan dibaca. Karya- karya yang tinggi itu akan pupus. Apa yang tersisa di depan mata hanyalah dinisbahkan kepada dunia dan hukum kebetulan.
Seperti mutiara yang berkilauan apabila pecah, ia jadi kaca yang tak bercahaya. Demikanlah kekafiran merosakkan hakikat kemanusiaan.

Nilai komersial sesuatu karya manusia akan selalu berbeza baik nilai estetika mahupun kualitinya. Terkadang kedua nilai itu tampak sama terkadang nilai komersialnya lebih tinggi berbanding nilai seninya. Contohnya filem keluaran barat dan sekarang. Penuh dengan kebobrokan akhlak dan ketandusan seni tapi mempunyai nilai komersial yang tinggi. Bandingkan sahaja dengan filem Majid Majdi, pengarah dari Iran. Filem seperti Children of Paradise, Colours of paradise, Father dan lain-lain. sarat dengan seni yang membudayakan.

Karya yang hebat tak perlu menyentuh sentiviti agama atau kaum. Tampilkan keindahan agama dan kaum dengan jujur. Aziz M. Osman, Erma fatima, Prof Madya, Bade azmi dan pengarah yang lain patut sedar. Nilai seni Malaysia hampir pupus. Agama jadi bahan komersial untuk menghalau hantu. Tak lama lagi, ketamadunan manusia akan diganti hantu-hantu yang tidak menakutkan.

Akhir sekali, pekerjaan ini buatku bebas menulis tentang apa. Pembaca boleh menghukum sesedap rasa. Kalau yang mengenal aku dengan jiwangnya, maka bacalah dengan nada begitu. Setelah faham, cuba bebaskan perumpamaan ini untukku;

Kalau kamu menanam ubi, jangan biar dikekoh babi
Kalau kamu membuat pagar, jangan sampai dilanggar babi
kalau kamu disentuh babi, jangan salahkan pagar dan ubi



-waza-
15-1-2010
rumah pusaka Nawaar

p/s- KUDB- Ketika Ubbiey Dikekoh Babbiey

Sunday, 3 January 2010

SELAMAT TAHUN BARU

Tahun 2009 telah berlalu. Aku namakannya tahun kesedihan. Namanya begitu, tak menggambarkan apa yang kurasakan sekarang. Ia adalah kesimpulan dari perasaan setahun. setelah dibanding dengan rasa yang dibentuk semenjak bertahun-tahun.

Tahun lalu adalah tahun tanpa cita-cita, tanpa harapan, tanpa perasan, tanpa banyak benda. Dalam serba kekurangan, aku tercungap-cungap. Letih menerima perkataan yang menenangkan. Dari teman dan lawan. kalau seekor pungguk bahagia dengan bulan, berjuta burung yang lainnya berkicau riang bila bulan diganti matahari. Lama mana sangat ia mampu tetap di atas dahan? Menahan telinganya yang besar itu dari cemuhan. realiti perjalanan yang menentang arus, kayu-kayu dan sampah akan dibawa sama.

Dimana bidadari adalah antara tempat pembuangan rasa. Walaupun ada sesuatu, tetap hijrahnya seperti penghijrah Ummu Qais. Nasibnya akan ditentukan. Samada penghujungnya seperti teratak waza atau rahsianya atau menunggu; sampai yang dikendong berciciran. Sampah yang terkumpul walaupun bernilai tetap sampah. Pesan orang lama, kamu datang untuk bersuci, kamu tak mampu untuk bersihkan, jangan kotorkan.

Tahun ini, aku lagi bimbang. Tiada lagi peluang untuk meluahkan perasaan di balik lembaran yang susah difaham begini. Orang-orang akan menduga perasaan lewat kata-kata dan pergerakan. Kata-kata kita akan ditafsirfaham dengan sekali dengar. Pergerakan kita akan disebut-sebut. Aku bimbang perasaan kembali berbunga, buah mulut akan kembali menguning. ia memang dilahirkan untuk berbunga dan berbuah. Musim-musim di alam realiti takkan sama dengan musim di hati.

Sungguh aku telah letih. Perjalanan ini telah mencuri separuh dari hidupku. Separuh yang lain aku tak kira. Kalau tidak kerna terlalu banyak yang telah aku bazirkan, sudah tentu aku akan meminta banyak benda. kalau sudah cukup bekalanku, selesai sudah hutangku, mahu sahaja kupinta agar semuanya terhenti di sini.

Tapi aku sedar, kematian hanyalah istirehat untuk orang yang menganggap dunia seperti penjara.Terlalu lama singgah di satu tempat kadang-kadang buat kita malas mencelik mata. Tambah pula tempat itu ada pesonanya. Persinggahan seterusnya belum tentu.

Udara walaupun bergerak pantas nampak seperti tak bergerak. Seperti kitalah. Kita telah melakukan banyak benda.kita bergerak ke sana sini. sampai berlalu satu hari, dan kita tak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan.selama kita hidup, berapa kali kesedaran ini kita hidupkan.

Setiap kita menghirup udara itu tapi ia tak berkurang. Kerana sebanyak yang dihirup sebanyak itulah yang dilepaskan. Kalau kita pernah merancang untuk melakukan sesuatu pada masa tertentu, mungkin ada yang terlepas dari pandangan kita. Tak sempat kita lakukan taklah bermakna kita akan kehilangannya terus. Kita masih boleh menghirup udara yang sama di masa yang lain.

Kita sebenarnya memproses udara yang sama. Kalau inginkan udara yang segar, pilihlah tempat yang selesa. Asap-asap kereta, kilang, rokok mencemarkan udara. Nanti bila wap-wap udara disedut matahari, ia akan berkumpul menjadi awan hitam. Air yang sepatutnya ubat menjadi racun.

Rosaknya sistem kerana kita yang memilih untuk jadi begitu. Kita juga memilih untuk berada di situ. Bahkan kita boleh untuk tidak menjadi awan hitam. Kita boleh lari bila-bila masa yang kita mahu. Kerana kita adalah udara yang bergerak melalui angin.

Kalau udara ini tiba-tiba berhenti bergerak adakah kita terpaksa mengaut ia dengan tangan sendiri kemudian mencucuk tangan ke dalam mulut agar ia dikeluarkan kembali. Kenapa perlu berfikir tentang itu? Manusia memang suka menyusahkan diri untuk mengusahakan sesuatu yang sudah dijamin untuknya.

Menyedari bahawa udara akan sentiasa ada dan diri tak perlu berusaha sebegitu rupa untuk hidup jadi apa yang payahnya hidup ini. Boleh bernafas itu satu nikmat yang terlebih besar yang patut dihargai. Mengapa terlalu memilih dalam hidup. Mengapa? Sehingga pilihan terakhirnya adalah inginkan ia terhenti dengan sendiri..

waza